Selasa, 19 Februari 2019

Kakek Tua Itu Terus Saja Mengayuh Sepedanya

        Sekitar pukul 7 pagi  kudengar suara ayuhan roda sepeda melewati jalan blok rumahku. Diikuti suara renta seorang kakek tua yang menjajakan minyak wangi yang merupakan barang dagangannya. Kubuka pintu rumahku dan kupanggil kakek itu untuk berhenti. Aku berniat untuk membeli satu botol minyak wangi yang memang kebetulan stock minyak wangiku sudah habis.

        Kakek tua itu berumur sekitar 80 tahun, dengan rambut yang sudah beruban, dan jenggot berwarna putih yang menampakkan simbol usia senjanya. Kakek tua itu terlihat ringkih, saat turun dari kayuhan sepedanya, beliau berjalan dengan tergopoh dengan tubuh yang gemetar/ tremor. Subhanalloh.... Hati ini mulai menangis, menanyakan dalam hati, mengapa kakek setua itu masih saja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pertanyaan besar itu hanya bisa dipendam dalam hati, tak berani aku tanyakan kepada beliau. Akhirnya satu botol miyak wangi seharga Rp 7.500,00 aku beli.

            Keesokan harinya, suara ayuhan sepeda dan suara sang kakek terdengar riuh di antara aktifitas rutin pagi keluarga kami. Tapi kali ini, aku membiarkan beliau melewati blok rumahku saja.

           Pagi demi pagi berlalu. dan tak satu pagi pun terlewati tanpa sang kakek penjual minyak wangi itu. Suatu pagi, aku memanggil beliau kembali. Walaupun minyak wangi yang aku beli waktu itu masih ada, aku hanya ingin "membantu" beliau dengan membeli barang daganggannya. Kali ini aku membayaranya dengan sedikit lebih dari harganya. Dan aku beranikan diri untuk bertanya dengan beliau.

" kek, kakek rumahnya mana?"tanyaku mengawali

dengan suara gemetar beliau menjawab " dari Kalisari mba..aaa...aaa..aaa"

" wah lumayan jauh nggih pak?"

" iya..aa..mba...aaa,"

" kakek, tinggal sama siapa?"tanyaku lanjut

"nggih mba..a...aa sama anak sama dan menantu saya. Anak saya dan menantu kerja di sawah bantuin orang, kadang kebutuhan kurang, jadi bapak mau bantu anak dan menantu." jelasnya

" sudah lama pak jualan minyak wangi?"

" iya sudah hampir 2 tahun"

"dari jam berapa kakek keluar rumah?"

"dari habis subuh mba, dari jam 5 pagi, saya cuman memutar di perumahan ini"

"sehari bisa dapat berapa pak?"

"tidaak meesti mba,alhamdulillah cukup?"

"apa tidak capek kek, kakek naik sepeda?"

"tiidaak mba..Alhamdulillaah"

             MasyaAlloh,,, betapa luar biasa kakek ini. Setua ini, masih memiliki semangat yang tinggi untuk menjemput rejeki. Kakek tua tak yang tak mengenal lelah, Beliau terus saja mengayuh sepedanya. Mengayuh sepeda yang InsyaAlloh sebagai ikhtiar mendapatkan rizki dan berkah Alloh SWT. Betapa tertamparnya kita yang masih muda, yang masih punya tenaga berlimpah, namun suka mengeluh dan bermalas-malasan. Bahkan kadang terdiam dan menggerutu dan tidak melakukan apa-apa.

          Semoga kakek senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan rejeki yang berkah dan berlimpah. Aamiin YRA...


Hikmah:

"Berjuanglah dan jangan menyerah, Biarkan roda kehidupanmu terus berputar seperti ayuhan sepeda kakek tua itu."


Annisa Hanan








Tidak ada komentar:

Posting Komentar