Semoga Alloh melindungi dan memberikan rahmat kepada kita semua....
Hari ini, Selasa (26/2) saya dikejutkan oleh berita dari grup WA, mengabarkan seseorang yang cukup saya kenal telah meninggal dunia tadi pagi secara mendadak. Kabarnya, dikarenakan pembuluh darahnya ada yang pecah. Dalam umur 43 beliau telah berpulang kepada Alloh SWT. Usia yang terbilang masih muda. Beliau meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak.
Beliau memiliki peran yang penting dalam hidup saya. Beliau adalah ustazd saya saat saya masih sekolah dasar. Beliau yang mengajarkan dan mengenalkan saya pada Al-Quran. Dari ilmu dan kesabaran beliau, Saya diajarkan mengenal huruf Hijaiyah sehingga mampu membaca Al Quran dengan lancar, bahkan bisa melantunkannya.
Waktu itu beliau masih remaja. Bersama teman2 remaja masjid lainnya, mereka memakmurkan masjid melalui kegiatan Taman Baca Qur'an (TPQ). Setiap hari mulai jam 16.00, anak2 sekitar masjid diajarkan membaca Iqro, Al quran, menulis, hafalan surat, cerita2 nabi, dan qosidah.
Innallillahi wa inna illaihi roji'un...
Selamat jalan ustadz,
Semoga engkau husnul khotimah
Semoga apa yang dilakukannya dapat menjadi amal jariyah dan ladang pahala bagimu
Semoga semua amal beliau diterima Alloh SWT
dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Alloh SWT
Aamin YRA...
Sahabat yang dirahmati Alloh...
Kejadian seperti cerita diatas, sudah seringkali kita jumpai atau kita dengar selama ini. Kematian yang tiba-tiba, atau meninggalnya seseorang karena tua dan sakit.
Kematian memang sudah menjadi hak prerogatif Alloh SWT. Setiap makhluk yang diciptakanNya pasti akan mengalami kematian.
Seperti firman Alloh SWT dalam QS Ali-Imran: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
kullu nafsin dzaa-iqatu lmawti wa-innamaa tuwaffawna ujuurakum yawma lqiyaamati faman zuhziha 'ani nnaari waudkhila ljannata faqad faaza wamaa lhayaatu ddunyaa illaa mataa'u lghuruur
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
Tafsir al-Jalalain:
(Setiap diri akan merasai kematian dan hanya pada hari kiamatlah pahalamu disempurnakan) artinya pada hari kiamatlah ganjaran amal perbuatanmu dipenuhi dengan cukup. (Barang siapa yang dijauhkan) setelah itu (dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung) karena mencapai apa yang dicita-citakannya. (Kehidupan dunia ini tidak lain) maksudnya hidup di dunia ini (hanyalah kesenangan yang memperdayakan semata) artinya yang tidak sebenarnya karena dinikmati hanya sementara lalu ia segera sirna.
Kejadian seperti cerita diatas, sudah seringkali kita jumpai atau kita dengar selama ini. Kematian yang tiba-tiba, atau meninggalnya seseorang karena tua dan sakit.
Kematian memang sudah menjadi hak prerogatif Alloh SWT. Setiap makhluk yang diciptakanNya pasti akan mengalami kematian.
Seperti firman Alloh SWT dalam QS Ali-Imran: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
kullu nafsin dzaa-iqatu lmawti wa-innamaa tuwaffawna ujuurakum yawma lqiyaamati faman zuhziha 'ani nnaari waudkhila ljannata faqad faaza wamaa lhayaatu ddunyaa illaa mataa'u lghuruur
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
Tafsir al-Jalalain:
(Setiap diri akan merasai kematian dan hanya pada hari kiamatlah pahalamu disempurnakan) artinya pada hari kiamatlah ganjaran amal perbuatanmu dipenuhi dengan cukup. (Barang siapa yang dijauhkan) setelah itu (dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung) karena mencapai apa yang dicita-citakannya. (Kehidupan dunia ini tidak lain) maksudnya hidup di dunia ini (hanyalah kesenangan yang memperdayakan semata) artinya yang tidak sebenarnya karena dinikmati hanya sementara lalu ia segera sirna.
Saya hanya ingin mengambil hikmah dari kejadian ini. Kematian itu sangatlah dekat, Ia tak mengenal nama, tempat, kejadian, umur, maupun waktu. Dia bisa datang kapan saja dan dimana saja. Dia tak pandang bulu kepada siapa dia akan mengambil nyawa dari tubuh seseorang. Baik dalam keadaan sakit, perjalanan, tidur, bahkan sedang tertawa sekalipun.
Tentang mengingat kematian, Nabi Saw memberi kita nasehat, “Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho, Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat”.
Kematian memberi kita nasihat bahwa hidup di dunia tidaklah selamanya. Kematian pasti akan datang. Masalahnya, apakah kita sudah siap ketika malaikat Isrofil mencabut nyawa dari jasad kita? Sudah seberapa banyak pahala dan amal kebaikan yang bisa kita bawa untuk bekal di akhirat. Yang akan menolong kita di alam kubur dan alam barzah sehingga pada akhirnya kita akan masuk surga.
Bukankan setiap kita ingin masuk ke dalam Jannah nya? Yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan. Bukan di neraka, tempat segala siksaan dan penderitaan.
Kematian bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, selagi kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, gunakan waktu kita yang tersisa hanya untuk beribadah dan beramal shaleh. InsyaAlloh akan menjadi kebaikan dan penlong kita di akhirat.
Jadikan hidup di dunia ini hanya untuk beribadah padaNya. Kita yang masih berbuat dosa dan maksiat, marilah kita bertaubat dan memohon ampun kepada Sang Illahi. Dengan ampunan dan rahmatNya lah, semoga kita termasuk orang-orang beruntung yang akan dikumpulkan di SurgaNya kelak.
Aamin YRA...
Annisa Hanan
Tentang mengingat kematian, Nabi Saw memberi kita nasehat, “Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho, Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat”.
Kematian memberi kita nasihat bahwa hidup di dunia tidaklah selamanya. Kematian pasti akan datang. Masalahnya, apakah kita sudah siap ketika malaikat Isrofil mencabut nyawa dari jasad kita? Sudah seberapa banyak pahala dan amal kebaikan yang bisa kita bawa untuk bekal di akhirat. Yang akan menolong kita di alam kubur dan alam barzah sehingga pada akhirnya kita akan masuk surga.
Bukankan setiap kita ingin masuk ke dalam Jannah nya? Yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan. Bukan di neraka, tempat segala siksaan dan penderitaan.
Kematian bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, selagi kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, gunakan waktu kita yang tersisa hanya untuk beribadah dan beramal shaleh. InsyaAlloh akan menjadi kebaikan dan penlong kita di akhirat.
Jadikan hidup di dunia ini hanya untuk beribadah padaNya. Kita yang masih berbuat dosa dan maksiat, marilah kita bertaubat dan memohon ampun kepada Sang Illahi. Dengan ampunan dan rahmatNya lah, semoga kita termasuk orang-orang beruntung yang akan dikumpulkan di SurgaNya kelak.
Aamin YRA...
Annisa Hanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar